Lanjut ke konten

Kuliah di Hard University

31 Mei 2011

Seorang sahabat pernah mengajukan pertanyaan : universitas apakah yang terbaik di dunia ? Tentu semua orang sepakat kalau Harvard University diklaim sebagai universitas terbaik di dunia (Sumber: Wikipedia). Tak bisa dipungkiri bahwa universitas yang terletak di Boston, USA yang merupakan salah satu universitas tertua di dunia ini, telah banyak melahirkan orang hebat yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Reputasi alumninya pun diakui berbagai kalangan dan banyak orang berlomba-lomba, termasuk warga negara Indonesia, ingin melanjutkan studi disana. Memang, kuliah di luar negeri jadi sebuah impian bagi kebanyakan orang.

Tapi, pernahkah kita semua berpikir bahwa dimanapun tempat kuliah berada, kita wajib bersyukur karena itu adalah suatu kesempatan besar karena banyak saudara kita yang tidak dapat menggenggam kesempatan berkuliah. Hal ini juga menjadi kebanggaan tersendiri karena rasa bangga ini akan membuat kita termotivasi, melangkah maju ke depan dan selalu mencintai almamater kita. Kampus (baca: universitas) adalah pusat pembelajaran. Pepatah bilang dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung. Seorang kakak angkatan yang saya kagumi pernah berkata bahwa sebenarnya kita kuliah di dua tempat yang berbeda yaitu kampus pendidikan formal yang kita tempuh sekarang dan kuliah di Hard University atau universitas kehidupan. Sebuah universitas yang berisi kesulitan dan tantangan yang mengharuskan kita untuk senantiasa belajar, belajar, dan belajar.

Belajar(study) tidak identik dengan proses belajar-mengajar di kelas saja. Cakupan belajar disini sangat luas. Apalagi di kampus, dengan segala iklim heterogennya dan ideologi yang dipasarkan. Sebelum pembahasan berlanjut, akan lebih mudah kalau kita menggunakan kata pembelajaran (learning) dalam konteks ini. Perlu kita pahami bahwa kampus merupakan salah satu miniatur masyarakat kecil yang cukup heterogen, mulai dari pedagang, karyawan, dosen, birokrasi dan tentunya mahasiswa. Heterogenitas ini mengharuskan kita agar dapat berkomunikasi dengan siapa saja sesuai kapasitas dengan siapa kita akan berhadapan. Dunia kampus juga dapat disebut dunia yang berisi persaingan, karena disinilah berbagai macam ideologi dijual dengan bebas, sesuai dengan pemahaman masing-masing. Ideologi tersebut mengalir seperti air, ingin menunjukkkan eksistensinya. Oleh karena itu, persiapkanlah diri kita masing-masing untuk menghadapi tantangan dan lingkungan yang ada.

Proses pembelajaran seperti disebutkan di atas harus dirancang sedini mungkin. Hal ini perlu digarisbawahi mengingat memilih lingkungan yang tepat dan nyaman di kampus untuk meningkatkan pengembangan diri kita sangat penting. John C. Maxwell, seorang penulis dan motivator hebat dari USA, pernah berkata bahwa kebanyakan orang tidak memimpin hidup mereka – mereka menerima hidup mereka. Mereka menunggu pengalaman terjadi, tak pernah berpikir untuk merencanakan pengalaman yang akan menciptakan kenangan. Oleh karena itu perlu kita susun perencanaan yang matang dari awal, What should we do in university ?. Kita semua harus menjadi seorang yang aktif, kritis, ilmiah dan mempunyai sikap. Apalagi seorang mahasiswa juga digadang-gadang menjadi penerus bangsa dan director of change (direktur / pemimpin perubahan).

Perubahan besar terjadi ketika kita menyandang titel dari siswa menjadi mahasiswa, maha adalah tingkatan tertinggi yang berarti juga bahwa kita semua disini adalah seorang siswa dengan level tertinggi. Sebuah pencapaian hebat yang harus dibuktikan ketika mengemban amanah besar ini. Seorang pemimpin perubahan otomatis mempunyai tanggung jawab, hak dan kewajiban serta peran dan posisi yang berbeda. Kita sudah bukan anak SMU lagi. Harapan besar datang tidak hanya dari orang tua saja, namun masyarakat juga berharap banyak dari sosok mahasiswa. Mahasiswa identik dengan kemampuan serbabisa, kritis dan kaum intelektual / terpelajar (sebutan ini sudah ada sejak zaman Budi Oetomo).

Kaum intelektual adalah kumpulan dari pribadi-pribadi yang aktif. Tentu kita semua masih ingat dengan kurikulum KBK di SMU yang menuntut keaktifan kita. Setali tiga uang dengan KBK, sebuah kampus pati ingin mencetak generasi yang aktif, yang bisa menjadi pelopor perubahan. Oleh karena itu pilihan besar harus diambil dan berorganisasi menjadi sebuah pilihan yang tepat bagi seorang mahasiswa untuk membuktikannya. Hal ini juga diamini oleh Mc Keachi dengan pendapatnya ”most student learning occurs outside the classroom” (proses belajar mahasiswa kebanyakan terjadi di luar ruang kuliah). Ada beberapa manfaat yang didapat dengan berorganisasi, diantaranya :

  1. Menyalurkan potensi diri, potensi kelimuan, minat bakat kita sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan kompetensi kita.

  2. Pepatah klasik berkata ”pengalaman adalah guru terbaik”. Pengalaman berharga akan banyak kita dapat dalam berorganisasi. Orang yang aktif dalam organisasi cenderung mudah untuk memahami berbagai macam karakter orang, karena ia terus dan selalu berinteraksi. Selain itu dia juga menghadapi banyak masalah (baca: tantangan) yang akan meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah.

  3. Melatih kemandirian dan kedisiplinan. Dua point itulah yang harus dibina sejak awal. Seorang mahasiswa, yang (mungkin) jauh dari orang tua dituntut mandiri. Selain itu disiplin menjadi menu pokok baik disiplin diri, disipilin waktu, dan disiplin menaati peraturan yang ada.

  4. Belajar kerja sama tim. Dengan berorganisasi kita akan banyak melakukan hal-hal positif sehingga mengurangi aktifitas yang mubadzir. Hal-hal positif yang dilakukan dapat meningkatkan kratifitas dan inovasi kita, karena dalam organisasi banyak deadline dan target yang harus dicapai, dan untuk mencapai keberhasilan itu diperlukan kerja sama yang solid dalam tubuh organisasi tersebut.

  5. Mendapatkan banyak link untuk bekal masa depan. Dengan berorganisasi, kita akan mengenal banyak teman, kakak kelas, dosen baik dari jurusan / fakultas yang sama atau berbeda. Hal inilah yang diperlukan untuk bekal ke depan, sebagai link terutama ketika kita memasuki dunia kerja.

  6. Mampu memprediksi masa depan. Dalam organisasi akan banyak target yang akan dicapai dalam pengembangan organisasi. Dalam setiap program kerja yang dibuat akan dapat dilihat kekurangan dan kelebihannya, strategi yang tepat untuk melaksanakannya, sehingga masa depan organisasi ke depan bisa kita prediksi dengan baik.

Dengan banyaknya benefit yang didapat, tentunya kita jangan sampai menjadi mahasiswa yang pasif atau introvert, bahkan ada istilah mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Berangkat pagi untuk mengikutii kuliah, duduk manis mendengari penjelasan dosen, pulang setelah dosen selesai mengajar. Pergi ke perpustakaan itupun kalau sempat dan tidak mengganggu aktivitas lain. Dalam perjalanan saya di kampus, banyak sekali tipe mahasiswa seperti ini. Sedikit sekali diantara mahasiswa yang mau menggunakan waktu sisanya untuk melakukan aktivitas yang bisa menggali dan mengembangkan potensi diri seperti mengikuti kegiatan organisasi baik di dalam maupun di luar kampus. Banyak yang tidak mau keluar dari zona kenyamanannya (comfort zone) untuk menerima tantangan dan kesulitan yang lebih dari sekedar aktivitas kuliah. Kata organisasi menjadi hal yang tabu dan dihindari karena dianggap membuang-buang waktu saja.

Padahal lewat berorganisasi, ada garansi bahwa kita mendapat pelajaran lebih daripada ”cuma” berkuliah saja. Organisasi inilah yang saya sebut sebagai hard university. Hard university adalah universitas kehidupan, universitas pembelajaran. Dalam organisasi, kita belajar bersosialisasi, belajar berkomunikasi, belajar menerima perbedaan pendapat, belajar memotivasi diri dan orang lain, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersahabat dalam menghadapi dan mengatasi masalah. Pelajaran inilah yang tidak kita dapat di bangku kuliah dan di pendidikan fornal, sehingga ketika kita lulus dari hard university kita menjadi pribadi yang kuat dan bijak dalam menghadapi masalah. Banyak contoh orang yang kurang berhasil di pendidikan formal namun bisa berhasil di kehidupan nyata. Thomas Alfa Edison yang hanya sekolah beberapa bulan dapat menemukan lampu pijar dan memperolah hak paten lebih dari 3000 hasil penemuannya. Di Indonesia, ada sosok Andri Wongso yang menjadi motivator hebat. Gelarnya unik Andrie Wongso SDTT, TBS yaitu sekolah dasar tidak tamat tapi bisa sukses. Mereka adalah sosok yang besar karena mau dan mampu menimba ilmu lebih, memaksimalkan waktu dan kesempatan yang ada.

Oleh karena itu jadilah seorang pembelajar sejati di hard university yaitu dengan berorganisasi. Kita harus bersyukur karena kita mempunyai kesempatan yang tidak dimiliki oleh setiap orang untuk mengeyam pendidikan tinggi. Oleh karena itu gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya dengan aktivitas yang bermanfaat. Jalani setiap aktivitas tidak hanya menjadi rutinitas belaka, berikan nilai tambah pada segala aktivitas yang kita kerjakan. Manfaatkan segala fasilitas yang ada di kampus secara maksimal sebagai sarana mengasah potensi diri. Organisasi adalah pusat pembelajaran kita semua, oleh karena itu organisasi akan menjadi organisasi pembelajar (learning organization) jika individu-individu di dalamnya adalah kumpulan orang-orang yang senantiasa melakukan pembelajaran.

Hidup adalah pilihan, menjadi orang biasa-biasa saja atau orang yang luar biasa itu adalah pilihan kita masing-masing. Hidup Mahasiswa, Hidup Pembelajar Sejati. Selamat Berproses dan Salam Sukses…!!!

Iklan

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: